Dalam seri ketiga ini, penderitaan Kerani belum juga berakhir. Cerita dimulai dengan suasana baru karena kantor mereka telah pindah ke gedung baru. Namun, pindah gedung bukan berarti perilaku Bossman berubah; justru kekonyolannya semakin menjadi-jadi.
Bossman digambarkan sangat “katrok” atau norak saat beradaptasi dengan kantor barunya. Salah satu sumber kelucuan utama di buku ini adalah keinginan Bossman agar ruangannya selalu dekat dengan Ibu Kerani, yang tentu saja membuat Kerani semakin sulit untuk bernapas lega dari gangguan sang bos. Sifat Bossman yang super pelit, sok tahu, dan menyebalkan tetap konsisten hadir dalam kumpulan dialog singkat dan fragmen kejadian yang absurd, membuktikan bahwa di mana pun tempatnya, Bossman akan tetap menjadi Bossman.